Pandangan Orang Mukmin Terhadap Dunia
Orang mukmin adalah sebaik-baik
makhluk dalam memanfaatkan dunia. Baginya, dunia bukanlah tempat untuk mencari
kepuasan lahiriah semata, karena ada hal yang lebih penting dari sekadar
kesenangan duniawi. kebahagiaan tidak terletak pada materi, namun
lebih pada ketentraman hati. Yaitu hati yang disirami oleh cahaya keimanan,
hati yang tersentuh oleh panggilan ilahi. Itulah sumber kebahagiaan. Oleh
karena itu, orang mukmin tidak memandang dunia sebagai tujuan utama hidupnya.
Dunia adalah tempat baginya untuk
menyusun dan merencanakan hari esoknya yang lebih cerah. Ketika manusia
tertunduk lesu menyesali apa yang telah mereka lakukan dengan muka pucat
kebingungan mencari-cari suaka dan pertolongan, ia dengan ‘gagah’ menegakkan wajahnya
karena mendapatkan apa yang dulu dijanjikan.
Ketika manusia satu persatu
dihinakan di hadapan seluruh makhluk sebagai akibat atas apa yang telah
diperbuat, ia dengan tenangnya menghadapi semua itu tanpa rintangan. Ya, itulah
hari perhitungan atau dalam istilah syar’i “Yaumul Hisab“. Hari
ditimbangnya amalan manusia. Dan hal itu semua tidak akan terjadi, kecuali
karena ia menjadikan dunia bukan sebagai tujuan utamanya. Berikut ini pandangan
orang mukmin terhadap dunia:
Penjara
dunia
Di matanya, dunia tak lebih dari
sebuah penjara karena ia tidak bisa bebas sepuas-puasnya. Ia tidak bisa
mengumbar nafsu semaunya. Ada aturan yang membatasinya. Jika ia melewati batas
itu, ia akan terjungkal sedalam-dalamnya ke lembah kenistaan yang berujung
penyesalan. Namun, sebaliknya, bagi orang kafir dunia ini adalah kesenangannya.
Dunia ini adalah ‘surga’nya. Ia bebas melakukan apa saja semaunya; tak ada yang
melarang. Begitulah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengabarkan,
dalam sabdanya
الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ
وَجَنَّةُ الْكَافِرِ
“Dunia itu penjara bagi orang mukmin
dan surga bagi orang kafir” (HR.
Muslim).
Selain itu pun, orang mukmin masih
dituntut menjalankan ketaatan-ketaatan yang memberatkan, yang tidak boleh
disia-siakan. Sebagaimana ia juga terlarang melakukan perkara-perkara yang
diharamkan. Berikut Rasulullah menegaskan.
إنّ اللَّهَ حدَّ حُدُوداً فلا
تَعْتَدُوْهَا وفَرَضَ فَرَائِضَ فلا تُضَيِّعُوْهَا وحَرَّمَ أشْيَاءَ فَلاَ
تَنْتَهِكُوْهَا وتَرَكَ أشْيَاءَ مِنْ غَيْرِ نِسْيَانٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَلكِنْ
رَحْمَةً مِنْهُ لَكُمْ فَاقْبِلُوْهَا وَلتَبْحَثُوْافِيْهَا
“Sesungguhnya Allah telah menentukan
batasan-batasan, janganlah kalian melampauinya. Juga menetapkan perkara-perkara
wajib, janganlah kalian menyia-nyiakannya. Selain itu, juga mengharamkan
beberapa hal, jangan pula kalian melanggarnya. Dan mendiamkan beberapa macam
perkara, bukan karena lupa, tapi sebagai bentuk kasih sayang kepada kalian,
maka terimalah dan janganlah kalian mencari-carinya” (HR. Hakim).
Dunia
ibarat lautan dalam
Siapa pun tahu seperti apa laut.
Hamparan air yang membentang nan luas, dari ujung pantai ke pantai lainnya,
tempat di mana sungai-sungai ‘memuntahkan’ airnya. Pada galibnya, garis-garis
pantai adalah titik dangkal di mana manusia bisa menikmati air laut, dengan cara
menceburkan diri. Atau tempat di mana perahu-perahu nelayan berlabuh. Sesuatu
yang sudah maklum, jika dasar laut itu semakin ke tengah semakin dalam.
Sehingga para perenang itu, jika semakin ke tengah berenang, semakin tinggi
pula risiko tenggelamnya. Dan jika sudah tenggelam, semakin susah pula
selamatnya.
Begitu juga dunia. Ketika masih di
pinggiran, ia belum kelihatan menarik di mata. Semakin ke dalam manusia
mencari, semakin tampak pula keindahannya. Hingga apabila sudah sampai titik
puncaknya, manusia pun dibuat terlena olehnya. Kini, ia bukan hanya menarik
di mata, tetapi juga memikat jiwa. Oleh karena itu, orang mukmin akan ekstra
hati-hati ketika menceburkan diri ke dunia, jangan sampai terseret ombak yang
akan menjerumuskannya. Sebab jika sudah terjerumus, sangat susah untuk
melepaskan diri darinya.
Petiklah nasihat Hasan al-Bashri
(wafat 728) berikut, seperti yang diungkap Ibnu Abi Dunya dalam kitabnya Dzamm
ad-Dunyâ di halaman 21, “Berhati-hatilah kalian dari menyibukkan diri
dengan perkara dunia, karena ia dipenuhi kesibukan.siapa saja yang berani membuka
salah satu pintu kesibukan itu, niscaya akan terbuka untuknya sepuluh pintu
kesibukan lainnya, tidak seberapa lama kemudian.”
Oleh sebab itu, kendaraan orang
mukmin ketika mengarungi samudera dunia adalah perahu takwa, berdayung iman dan
berlayar tawakal. Itulah kunci keselamatan. Sungguh, betapa sedikit yang
selamat!
Catatan
nabi Ibrahim untuk dunia
Disebutkan dalam lembaran Suhuf nabi
Ibrahim kata-kata berikut, “Wahai dunia betapa hinanya dirimu di mata orang
baik, meskipun engkau hiasi dirimu sedemikian rupa. Percuma saja, karena Aku
telah menyusupkan di hatinya rasa benci dan sikap penolakan terhadapmu. Aku
tidak menciptakan sesuatu yang lebih hina di mata-Ku melebihi dirimu. Apa yang
ada padamu hanyalah sesuatu yang tidak bernilai, bahkan dirimu pun akan
mengalami kefanaan. Sebab telah Aku putuskan, ketika menciptakanmu, engkau
tidak abadi dan tidak ada satu pun yang bisa membuatmu abadi, meskipun para
pecintamu pelit terhadapmu. Sungguh, beruntunglah orang yang baik itu. Ia
senantiasa mengingat-Ku dengan penuh kerelaan, kejujuran, dan istiqamah.
Sungguh, beruntunglah ia. Tak ada balasan di sisi-Ku melainkan cahaya yang akan
menuntunnya ketika dibangkitkan dari kuburan. Sementara para malaikat akan
mengelilinginya hingga Aku penuhi apa yang ia harapkan dari rahmat-Ku.”
Begitulah sang Pencipta mensifati bumi, seperti yang ditulis oleh Ibnu Abi
Dunya dalam Dzamm ad-Dunyânya.
Bagai
makan buah simalakama
Begitulah ungkapan yang tepat
menurut orang mukmin. Makan ini salah, makan itu juga salah. Pilih yang ini,
yang satunya tidak bisa diraih. Satu dikejar, satunya lagi lepas dari
genggaman. Mau, tidak mau, harus ada yang dikorbankan. Begitulah orang mukmin
membandingkan dunia dan akhirat. Jika dunia yang dipilih maka akhirat akan
terlantarkan. Adapun jika akhirat yang dikejar, dunia tidak maksimal
didapatkan. Ingin dapat dua-duanya, sepertinya hampir mustahil. Harus satu yang
didahulukan. Ya, dan pilihannya ada pada akhirat. Dengan pertimbangan, jika dunia
yang didahulukan, kemungkinan mendapatkan akhirat nol persen. Namun, jika
akhirat yang didahulukan, dunia masih bisa didapatkan, meskipun cuma satu
persen. Itu lebih baik. Baca dan cermati firman Allah ‘
‘Azza wa Jalla berikut (yang artinya), “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi” (QS. al-Qashash [28]: 77).
‘Azza wa Jalla berikut (yang artinya), “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi” (QS. al-Qashash [28]: 77).
Apa pesan yang terkandung dari ayat
tersebut? Menurut para ahli tafsir, Ibnu Jarir dalam Jami’ al-Bayannya
misalnya, hendaknya harta yang Allah berikan itu digunakan untuk kebaikan
akhirat, dengan cara mendistribusikannya pada ketaatan dengan tetap
memerhatikan bagian kita di dunia, alias tidak melupakannnya. Ambil dan
gunakanlah untuk sesuatu yang akan menyelamatkan kita besok dari azab Allah.
Atau, seperti kata as-Sa’di dalam
kitab Taisirnya, harta yang diperoleh itu adalah sarana menuju akhirat,
maka seyogyanya digunakan untuk mengejar apa yang ada di sisi Allah. Hendaknya
disedekahkan dan tidak digunakan untuk pemenuhan syahwat semata. Tidak mengapa
jika ingin bersenang-senang dengan dunia, hanya saja jangan sampai membahayakan
agama dan akhiratnya. Nah, begitulah seharusnya. Hidup di dunia cuma sekali,
itu pun tidak abadi.
Lalu seperti apakah nasib seseorang
kelak jika ia mendahulukan dunia? Mendahulukan akhirat, bukan berarti tidak
boleh bersenang-senang menikmati dunia. Itu boleh-boleh saja, asalkan jangan
sampai terlena dan lupa pada tujuan yang sesungguhnya. Bahkan, seandainya kenikmatan
itu digunakan sebagai sarana menuju tujuan yang asasi, yaitu akhirat, itu
adalah sesuatu yang sangat bagus. Bukankah demikian?
Di samping itu, hal ini juga akan
mengurangi ketergantungan hati pada dunia. Sebab hati tersibukkan oleh perkara
akhirat, meskipun secara lahiriah sedang menikmati dunia. Sebaliknya, jika hati
disibukkan dengan perkara dunia, ketergantungannya pun pasti ada padanya,
meskipun secara lahiriah sedang melakukan amalan akhirat.
“Jika dunia dan akhirat berkumpul
dalam satu hati,” begitulah Sayyar Abu Hakam memaparkan yang kemudian
dinukil Ibnu Abi Dunya dalam kitabnya Dzamm ad-Dunyâ, “Maka salah
satunya akan saling mengalahkan yang lainnya. Siapa pun yang kalah ia akan ikut
dan tunduk kepada pemenangnya,”
Inilah
waktunya
Mungkin pernah terpikirkan atau
bahkan terbayangkan di benak kita, seseorang yang melakukan perjalanan jauh dan
kehabisan bekal, lalu di tengah perjalanan singgah dan istirahat sebentar untuk
membeli perbekalannya. Apa yang akan diperbuatnya? Tentunya, ia akan memanfaatkan
waktu singgahnya yang sebentar itu dengan sebaik-baiknya, dan hanya membeli
barang pokok yang dibutuhkannya saja, tanpa menoleh sedikit pun ke barang
lainnya, meskipun itu menarik. Sedikit saja ia tertarik kepada barang itu, lalu
mulai melihat dan memerhatikannya satu persatu, itu akan menghambat dan
memperlambat perjalanannya.
Bahkan, tidak menutup kemungkinan ia
akan mengurungkan niat untuk meneruskan perjalanan, karena terlanjur tertarik
oleh ‘mainan’ baru itu. Begitu pula dunia ini sejatinya, tidak jauh beda dengan
permisalan di atas. Dunia adalah tempat bercocok tanam, dan akhirat adalah
tempat panennya. Di sinilah kita berusaha dengan amalan kita, dan di sana nanti
kita memetik hasilnya. Sekaranglah saatnya untuk beramal; sebelum datang waktu
menyesal. Sebab di sana nanti tidak ada lagi amalan, yang ada hanyalah imbalan,
balasan, dan ganjaran. Sekaranglah saatnya, dan inilah waktunya.
Sekecil apa pun amalannya, kita
pasti akan mendapatkan ganjaran yang setimpal. Jika amalan itu baik maka akan
dilipatgandakan ganjarannya. Jika jelek, maka semisal pula balasannya. Semua
akan dipertanyakan dan dimintai pertanggungjawabannya. Tidak ada yang
terlewatkan.
Oleh karena itu, gunakanlah waktu
ini sebaik-baiknya. Jangan biarkan kesempatan berlalu begitu saja.
Manfaatkanlah sebelum jalan buntu menghadang, yaitu kata “terlambat”. Camkanlah
nasihat dari orang yang paling mulia berikut:
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ
قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ،
وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Gunakanlah lima perkara sebelum
datang lima perkara. (1) Mudamu sebelum tuamu; (2) sehatmu sebelum sakitmu; (3)
kayamu sebelum miskinmu; (4) waktu senggangmu sebelum waktu sibukmu; dan (5)
hidupmu sebelum matimu” (HR.
Hakim. Hadis ini sahih berdasarkan persyaratan Bukhari dan Muslim).
Ya, itulah kesempatan satu-satunya.
Jika ia dilewatkan begitu saja, ia tidak akan terulang lagi. Kesempatan itu
tidak datang dua kali. Perbanyaklah amalan yang berkualitas, dan jangan terlena
oleh gemerlapnya dunia. Beramallah dan jangan berpanjang angan-angan.
Berusahalah dan jangan memperturutkan hawa nafsu; karena itu menyesatkanmu.
Simaklah petuah yang disebutkan
al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Imânnya pada jilid VII halaman 329 berikut
ini. Ali bin Abu Thalib menuturkan, “Hai manusia, yang paling aku takutkan atas
diri kalian adalah panjangnya angan-angan dan hawa nafsu yang dituruti. Adapun
angan-angan yang panjang akan membuatmu lupa akhirat. Sedangkan menuruti hawa
nafsu akan membuatmu tersesat dari jalan kebenaran. Ketahuilah, dunia ini pergi
membelakangimu, di saat akhirat datang menghadangmu. Setiap masing-masing
mempunyai anak, oleh karena itu jadilah anak akhirat, bukan anak dunia.
Camkanlah, karena hari ini adalah harinya amalan, bukan perhitungan. Sedangkan
besok adalah harinya perhitungan, bukan amalan”.
