Setelah
satu persatu manusia yang ada di Padang Mahsyar menghadap Allah untuk bersoal
jawab dan menerima buku catatan amal
masing masing datanglah saatnya manusia
untuk ditimbang amal baik dan amal buruk nya. Mereka yang berat timbangan
kebaikannya maka ia berada dalam kehidupan yang menyenangkan didalam taman
taman syurga yang penuh kenikmatan bersuka ria . dan bagi mereka yang ringan timbangan
kebaikannya atau berat timbangan keburukannya maka tempat kembalinya adalah
neraka Hawiyyah, yaitu api yang amat panas membakar sampai ke ubun ubun. Allah
menyebutkan peristiwa menimbang amal kebaikan dan keburukan ini didalam surat
al Qoriah.
6. Dan adapun orang-orang yang berat timbangan
(kebaikan)nya, 7. maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. 8. Dan adapun
orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, 9. maka tempat kembalinya
adalah neraka Hawiyah. (QS.Al Qori’ah 6-9)
Allah
akan memasang timbangan yang tepat dan memiliki akurasi tinggi , sehinga
seseorang dihari itu tidak akan dirugikan sedikipun. Sekecil apapun amal baik
atau amal buruk seseorang walaupun hanya sebesar telur kutu miscaya tidak akan
luput dari timbangan itu. Allah menyebutkan peristiwa itu dalam surat QS.Al Anbiya’ 47
Kami akan memasang timbangan yang tepat pada
hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika
(amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya.
Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan. (QS.Al Anbiya’ 47)
Barang
siapa yang berbuat kebaikan walaupun seberat atom pasti akan menemui
balasannya, demikian pula barang siapa yang berbuat keburukan walaupun seberat
atom pasti akan menemukan balasannya pula
Barangsiapa yang
mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat
(balasan)nya 8. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar
dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (QS.Al Zalzalah 7-8)
Ketika
semua amalan manusia ditimbang maka manusia akan terbagi menjadi 3 kelompok.
Kelompok pertama mereka yang timbangan kebaikannya lebih berat dari timbangan
keburukannya, mereka itulah para calon penghuni Syurga. Kelompiok kedua mereka yang timbangan
keburukannya lebih berat daripada kebaikannya, mereka itulah calon penghuni
Neraka. Dan kelompok ketiga mereka yang timbangan amal kebaikannya sama dengan
amal keburukannya, mereka ditempatkan diatas dinding al A’Raaf yang berada
diantara Syurga dan Neraka. Mereka butuh sedikit amal tambahan untuk mendorong
mereka memasuki Syurga. Mereka akan tetap berada ditempat itu sampai ada
keputusan Allah untuk memasukan mereka
kedalam Syurga.
Hasil
timbangan amal itulah yang akan menentukan apakah seseorang ditempatkan di
Syurga, di Neraka ataukah diatas al A ‘raaf yaitu suatu tempat yang ada
diantara syurga dan neraka.
Mereka yang
ditempatkan di atas Al “Araaf
Diriwayatkan
oleh Khaitsamah bin Sulaiman dalam Musnad Khaitsamah dari Jabir bin Abdulllah
bahwa Rasulullah bersabda” Pada hari
kiamat nanti setelah dipasang timbangan, lalu ditimbanglah amal amal keburukan
dan amal kebajikan. Barang siapa yang bobot amal kebaikannya lebih berat dari
pada amal amal keburukannya meskipun hanya selisih sebutir telur kutu saja ,
niscaya ia masuk Syurga. Dan barang siapa yang bobot amal keburukannya lebih
berat dari pada amal kebaikannya walaupun selisih sebutir telur kutu saja ,
niscaya ia mauk Neraka”. Seorang sahabat bertanya “ Wahai Rasulullah
bagaimana orang yang bobot kebajikannya sama dengan bobot keburukannya”?.
Beliau menjawab “ Mereka itulah orang yang disebut Ashabul A‘Raaf . “Mereka tidak masuk Syurga , kendatipun mereka sangat menginginkannya.
“.
Kisah
tentang mereka yang ada diatas Al A’raaf ini disebutkan dalam surat Al A’Raaf
ayat 46-47.
Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada
batas; dan di atas A’raaf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari
dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga:
“Salaamun ‘alaikum.” Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera
(memasukinya). 47. Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni
neraka, mereka berkata: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami
bersama-sama orang-orang yang zalim itu (QS.Al A’Raaf 46-47)
Mereka
yang ada diatas Al A’Raaf itu bisa melihat keadaan didalam Neraka dan Syurga
dengan jelas. Ketika wajah mereka
dihadapkan kearah Neraka mereka ketakutan dan mohon pada Allah agar jangan
dimasukan kedalam Neraka itu. Ketika wajah mereka dihadapkan kearah Syurga
mereka merasa gembira dan mohon pad Allah agar segera dimasukan kedalam syurga
itu. Mereka terkatung katung diantara syurga dan Neraka. Mereka hanya
membutuhkan sedikit tambahan amal kebajikan agar bisa memenuhi timbangan untuk
masuk kedalam syurga.
Karena
itu agar kita tidak terkatung katung diantara syurga dan neraka perbanyaklah
timbangan kebaikan ketika masih hidup didunia ini. Kalimat dzikir seperti
tahlil, tasbih, tahmid , takbir dan istighfar merupakan amalan yang dapat
menambahkan timbangan kebaikan.
Dari
Abu Malik al-Asy’ari r.a., katanya: “Rasulullah
s.a.w. bersabda: “Bersuci itu adalah separuh keimanan, bacaan Alhamdulillah itu
adalah memenuhi beratnya timbangan -di akhirat, sedang Subhanallah dan
Alhamdulillah itu memenuhi apa yang ada diantara langit dan bumi.” (Riwayat
Muslim)
Hadis
riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah
saw. bersabda: Dua kalimat yang ringan untuk diucapkan, tetapi berat dalam
timbangan dan disukai oleh Allah Yang Maha Pengasih, yaitu: Subhanallah
wabihamdi , subhanallahil adzim “Maha Suci Allah dengan segala pujian-Nya dan
Maha Suci Allah Tuhan Yang Maha Agung”. (Shahih Muslim No.4860)
Berbagai
amal sunah yang berupa kalimat dzikir dan tasbih itu amat membantu bagi
seseorang di hari penimbangan amal. Ketika timbangan amal buruk seseorang ternyata lebih berat dari amal
baiknya , maka kalimat dzikir dan tasbih ini akan menambah timbangan kebaikan
sehingga amal baiknya lebih berat dari amal buruknya. Demikian pula jika
terjadi amal baik dan buruknya seimbang, maka kalimat dzikir dan tasbih yang
diucapkannya itu akan memenuhi timbangan kebaikannya, sehingga ia terdorong
masuk Syurga .
Orang yang Bangkrut
di hari berhisab
Ketika
hari berhisab kelak ada orang yang datang dengan amal seperti gunung tihamah.
Ia merasa bangga dengan amal kebaikan yang memenuhi buku catatan amalnya. Dia yakin bahwa ia akan
lulus saat dihisab dan masuk kedalam syurga.
Namun setelah dilakukan hisab dan tanya jawab semua
amal kebaikannya itu habis digunakan untuk membayar kejahatan dan
kedzoliman yang pernah dilakukannya
terhadap orang lain. Hingga semua kebaikannya yang terlihat seperti gunung
itu habis digunakan untuk membayar kedzolimannya pada orang lain tersebut.
Setelah kebaikannya habis ternyata ia masih mempunyai banyak sangkutan pada
orang lainya sedang ia sudah tidak punya amal lagi untuk membayarnya. Akhirnya
dosa orang lain itu dikurangi dan ditambahkan pada dosanya. Al hasil ia datang
ketempat penimbangan amal tanpa membawa amal kebaikan sedikitpun
Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tahukah kalian siapakah orang yang
bangkrut itu?”
Mereka
menjawab : “Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah orang yang tidak
memiliki dirham dan tidak pula memiliki harta/barang.”
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari
umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat,
puasa, dan zakat. Namun ia juga datang dengan membawa dosa kedzaliman. Ia
pernah mencerca si ini, menuduh tanpa bukti terhadap si itu, memakan harta si
anu, menumpahkan darah orang ini dan memukul orang itu. Maka sebagai tebusan
atas kedzalimannya tersebut, diberikanlah di antara kebaikannya kepada si ini,
si anu dan si itu. Hingga apabila kebaikannya telah habis dibagi-bagikan kepada
orang-orang yang didzaliminya sementara belum semua kedzalimannya tertebus,
diambillah kejelekan/kesalahan yang dimiliki oleh orang yang didzaliminya lalu
ditimpakan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim no.
6522)
Persiapan mengadapi
saat berhisab (timbangan amal)
Saat
berhisab itu pasti terjadi , itu adalah saat yang menentukan apakah kita akan
masuk syurga, Neraka atau terkatung katung diantara syurga dan Neraka berada
diatas dinding Al A’Raaf yang memisahkan syurga dan Neraka.
Pada
dasarnya mereka yang berat timbangan kebaikannya maka mereka akan dimasukan
kedalam syurga, dan mereka yang berat timbangan keburukannya maka tempat mereka
adalah di neraka jahanam.
Agar
terpilih menjadi penghuni Syurga
usahakanlah timbangan kebaikan lebih berat dari pada timbangan
keburukan. Beberapa kiat untuk mendapatkan timbangan kebaikan yang banyak
antara lain:
- Jauhkan diri dari melakukan perbuatan dosa dan maksiat yang dapat menambah timbangan keburukan.
- Perbanyak Istighfar mohon ampun pada Allah untuk mengurangi dan menghapuskan dosa yang terlanjur dilakukan
- Perbanyak amal soleh dan amal ibadah untuk menambah timbangan kebaikan
- Perbanyak berdzikir mengagungkan Allah dengan mengucapkan tasbih, tahlil, tahmid , takbir, membaca Qur’an untuk menambah timbangan kebaikan.
- Jauhi perbuatan menyakiti dan mendzolimi orang lain yang dapat jadi masalah kelak diakhirat. Dosa terhadap Allah bisa diampuni oleh Allah namun dosa terhadap seseorang harus diselesaikan dengan orang yang bersangkutan.
Orang
yang bijak dan arif akan berusaha sekuat tenaga melaksanakan beberapa kiat diatas
untuk menambah berat timbangan kebaikan, hingga ia bisa melalui saat berhisab
dengan mudah dan masuk Syurga tanpa banyak mengalami halangan dan rintangan.
